Kupang, FOR Kupang, Sabtu 18 Maret 2006
Sebagai salah satu bentuk peringatan terhadap International Women's Day (IWD), Front Oposisi Rakyat Kupang (FOR Kupang: LMND, SEPARATIK-SRMK, menyelenggarakan diskusi publik yang bertema "PEREMPUAN INDONESIA DI TENGAH BEBAN HUTANG DAN KOMERSIALISASI ENERGI". Diskusi Publik ini bekerja sama dengan Rumah Perempuan dan LSM PIKUL, menghadirkan pembicara antara lain: Ibu Edel (Rumah Perempuan), Ibu Martha Pengko (Biro Pemberdayaan Perempuan Pemprop NTT), Wahyu Adiningtyas (Yayasan PIKUL), George Hormat (LMND), Daeng (Koordinator Regio Nusa Tenggara JATAM), Adi Muldjono (Kepala Pemasaran PLN NTT).
Menurut Imelda Maru,ketua Eksekutif Kota LMND Kota Kupang, yang pada saat pelaksaan diskusi sedang berada di Jakarta untuk menghadiri Konferensi Nasional Perempuan Mahardika, menjelaskan bahwa FOR Kupang memilih persoalan Beban Hutang dan Komersialisasi Energi sebagai tema diskusi memperingati Hari Perempuan Internasional, karena FOR atau LMND khususnya melihat problem pokok perempuan Indonesia pada masa sekarang adalah serangan neoliberalisme yang mewujud antara lain dalam politik hutang dan komersialisasi atau liberalisasi energi yang berdampak pada menurutnya tingkat kesejahteraan rakyat. Penurunan tingkat kesejahteraan itu, lanjut Maru, berdampak pada terabaikannya hak-hak kaum perempuan seperti akses terhadap pendidikan dan kesehatan. Selain itu, kemiskinan juga berhubungan dengan semakin tingginya potensi perempuan menjadi korban kekerasan. "kemiskinan menjadi sebab tinggiya tingkat frustasi masyarakat, yang berdampak pada maraknya praktik kekerasan terhadap perempuan", Katanya.
Diskusi berlangsung di dalam dua sesi. Sesi yang pertama membahas problem-problem perempuan Indonesia dan NTT serta jalan keluar perjuangan perempuan. Dalam sesi tersebut, Ibu Martha Pengko, mewakili Pemprop NTT, menjelaskan kondisi rendahnya akses perempuan NTT terhadap pendidikan, lapangan kerja dan jabatan-jabatan publik. Kondisi ini, menurut Pengko berkatian dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang rendah. Ibu Edel lebih menjelaskan soal maraknya praktik kekerasan terhadap perempuan, khususnya KDRT.
Wahyu Adiningtyas, pembicara dari PIKUL, yang juga seorang mantan ketua sebuah gerakan mahasiswa demokratik mencoba mengajak kaum perempuan untuk mendiskusikan sejumlah kesalahan dalam konsep dan praktik perjuangan perempuan. Wahyu mengkritik bentuk perjuangan perempuan yang ditempuh oleh LSM-LSM. Selanjutnya ia menawarkan pembangunan organisasi massa perempuan yang tidak sektarian, yang selain berjuang dalam perspektif feminisme, juga terlibat aktif dalam perjuangan rakyat di sektor-sektor lain untuk memperjuangkan demokrasi dan tatanan ekonomi yang berkeadilan.
Posted by lmndkupang
at 2:29 PM EST
Updated: Saturday, 25 March 2006 2:43 PM EST